Apasih yang salah dari gue sayang lo?
Ketika pagi tiba, awan masih gelap
dan matahari belum terlalu terlihat. Reisa pergi dengan mata yang masih berat,
menuju taman dekat rumahnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan, suasana komplek
rumah yang masih sepi hanya orang pedagang sayur yang mempersiapkan
dagangannya. Jelas itu kondisi yang masih begitu pagi. Mendengarkan musik
koleksi mp3nya yang berputar secara shuffle dan menikmati udara pagi yang
begitu segar dan tentu masih hening. Berjalan dan berjalan tak mempedulikan
sekitar, hingga teman kompleknya menegurnya. Bayangan yang sedang tak terbayang
dalam benaknya, ia sedang merasa (masih) dalam mimpi. Beberapa hari ini Reisa
sedang tak tentu arah setelah seminggu yang lalu orang yang ia kasihi dan
cintai harus tega meninggalkannya untuk menikah, Denri nama kekasihnya itu.
Reisa sangat mencoba untuk merelakan dan menyemangati dirinya sendiri. Namun
hingga seminggu ini ia hanya termenung dan sering memandangan kosong. Seakan
menerawang jauh dari kota
yang terlalu banyak hiruk pikup.
Awalnya
Reisa adalah anak yang ramah dan periang. Tinggal ditengah kota
Jakarta dan
masih duduk di bangku SMA. Beberapa hari lalu ia naik ke kelas 3 dan tentunya
mendapati teman yang berbeda lagi di kelasnya. SMA Citra Harapan kelas XII Ipa
3 dan duduk dengan Seindra anak berjilbab yang santun dan baik. Seindra juga
temannya ketika di kelas sebelumnya, namun tak terlalu akrab dengan Reisa.
Hingga ketika Seindra mendapati Reisa dengan wajah yang amat pucat saat baru
saja sampai dipelataran SMA. Seindra begitu takut dengan kondisi Reisa, hingga
Seindra memopongnya untuk menuju UKS sekolah. Disana Reisa memejamkan mata dan
mencoba menenangkan diri dari pikiran yang selalu memikirkan Denri. Sebisa ia
membuka mata dan meyakinkan dirinya sendiri untuk menghadapi kenyataan ini.
Sebelah Reisa masih ada Seindra yang setia menemani ia sedari tadi. Merawat
Reisa sewaktu di UKS dan mencoba menanyainya tentang kondisi tubuhnya sekarang.
Reisa hanya terdiam dan tersenyum kepada Seindra. Akhirnya Reisa membuka
pembicaraan dan mencurahkan segala kondisi hatinya selama ini kepada Seindra.
Seindra mengusap air mata yang perlahan jatuh di pipi Reisa, memberi semangat
kepadanya dan kembali menenangkan dan menenangkan. Setelah kondisi Reisa
sedikit membaik dan sudah cukup kuat untuk berjalan menuju kelas, akhirnya
mereka pergi meninggalkan UKS.
Sedang
menjelaskan pelajaran Fisika, pak Narto menyambut kedatangan Reisa dan Seindra.
Pak Narto menanyakan keadaan Reisa, dan memberi keringanan waktu untuk Reisa
tetap beristirahat di UKS. Namun Reisa tetap ingin mengikuti pelajaran Fisika
meskipun hanya tersisa sekitar 30 menit. Kondisi kelas tetap tenang tanpa ada
yang kepo terhadap kondisi Reisa.
Hingga akhirnya bel istirahat berbunyi, masih tetap tenang sampai pak Narto tak
terlihat dibibir pintu. Booom mereka
menyerbu Reisa dan menanyakan apa yang terjadi pada Reisa pagi tadi. Reisa
menyambut mereka dengan senyuman dan seolah olah tak ada apapun yang terjadi,
menunjukkan kepada mereka yang begitu kepo
bahwa ia begitu baik baik saja. Tertawa dan ikut pembicaraan beberapa kawannya
yang memilih tidak pergi ke kantin , kondisi ia membaik bahkan ia saat ini
sedang tidak memikirkan Denri. Larut dalam perbincangan tentang masa depan dan
pencapaian, hari ini sebagian hari yang indah di sekolahnya. Sepulang sekolah
ia mengajak Seindra untuk ke perpustakaan kota
yang berjarak 5 km dari sekolah mereka. Mencari materi Bahasa Indonesia untuk
presentasinya besok lusa. Ia memang lebih suka pergi ke perpustakaan untuk
mencari bahan ketimbang internet, tapi setelah ia merasa masih kurang data maka
ia akan menulusuri internet. Seindra
begitu senang selama menemani Reisa di perpustakaan ia tak mendapati kemurungan
sedikit pun pada wajah Reisa.
...........................................................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar