Jumat, 14 September 2012

Sayang atau Cinta -bab awal-



Apasih yang salah dari gue sayang lo?

Ketika pagi tiba, awan masih gelap dan matahari belum terlalu terlihat. Reisa pergi dengan mata yang masih berat, menuju taman dekat rumahnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan, suasana komplek rumah yang masih sepi hanya orang pedagang sayur yang mempersiapkan dagangannya. Jelas itu kondisi yang masih begitu pagi. Mendengarkan musik koleksi mp3nya yang berputar secara shuffle dan menikmati udara pagi yang begitu segar dan tentu masih hening. Berjalan dan berjalan tak mempedulikan sekitar, hingga teman kompleknya menegurnya. Bayangan yang sedang tak terbayang dalam benaknya, ia sedang merasa (masih) dalam mimpi. Beberapa hari ini Reisa sedang tak tentu arah setelah seminggu yang lalu orang yang ia kasihi dan cintai harus tega meninggalkannya untuk menikah, Denri nama kekasihnya itu. Reisa sangat mencoba untuk merelakan dan menyemangati dirinya sendiri. Namun hingga seminggu ini ia hanya termenung dan sering memandangan kosong. Seakan menerawang jauh dari kota yang terlalu banyak hiruk pikup.   
Awalnya Reisa adalah anak yang ramah dan periang. Tinggal ditengah kota Jakarta dan masih duduk di bangku SMA. Beberapa hari lalu ia naik ke kelas 3 dan tentunya mendapati teman yang berbeda lagi di kelasnya. SMA Citra Harapan kelas XII Ipa 3 dan duduk dengan Seindra anak berjilbab yang santun dan baik. Seindra juga temannya ketika di kelas sebelumnya, namun tak terlalu akrab dengan Reisa. Hingga ketika Seindra mendapati Reisa dengan wajah yang amat pucat saat baru saja sampai dipelataran SMA. Seindra begitu takut dengan kondisi Reisa, hingga Seindra memopongnya untuk menuju UKS sekolah. Disana Reisa memejamkan mata dan mencoba menenangkan diri dari pikiran yang selalu memikirkan Denri. Sebisa ia membuka mata dan meyakinkan dirinya sendiri untuk menghadapi kenyataan ini. Sebelah Reisa masih ada Seindra yang setia menemani ia sedari tadi. Merawat Reisa sewaktu di UKS dan mencoba menanyainya tentang kondisi tubuhnya sekarang. Reisa hanya terdiam dan tersenyum kepada Seindra. Akhirnya Reisa membuka pembicaraan dan mencurahkan segala kondisi hatinya selama ini kepada Seindra. Seindra mengusap air mata yang perlahan jatuh di pipi Reisa, memberi semangat kepadanya dan kembali menenangkan dan menenangkan. Setelah kondisi Reisa sedikit membaik dan sudah cukup kuat untuk berjalan menuju kelas, akhirnya mereka pergi meninggalkan UKS.
Sedang menjelaskan pelajaran Fisika, pak Narto menyambut kedatangan Reisa dan Seindra. Pak Narto menanyakan keadaan Reisa, dan memberi keringanan waktu untuk Reisa tetap beristirahat di UKS. Namun Reisa tetap ingin mengikuti pelajaran Fisika meskipun hanya tersisa sekitar 30 menit. Kondisi kelas tetap tenang tanpa ada yang kepo terhadap kondisi Reisa. Hingga akhirnya bel istirahat berbunyi, masih tetap tenang sampai pak Narto tak terlihat dibibir pintu. Booom mereka menyerbu Reisa dan menanyakan apa yang terjadi pada Reisa pagi tadi. Reisa menyambut mereka dengan senyuman dan seolah olah tak ada apapun yang terjadi, menunjukkan kepada mereka yang begitu kepo bahwa ia begitu baik baik saja. Tertawa dan ikut pembicaraan beberapa kawannya yang memilih tidak pergi ke kantin , kondisi ia membaik bahkan ia saat ini sedang tidak memikirkan Denri. Larut dalam perbincangan tentang masa depan dan pencapaian, hari ini sebagian hari yang indah di sekolahnya. Sepulang sekolah ia mengajak Seindra untuk ke perpustakaan kota yang berjarak 5 km dari sekolah mereka. Mencari materi Bahasa Indonesia untuk presentasinya besok lusa. Ia memang lebih suka pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan ketimbang internet, tapi setelah ia merasa masih kurang data maka ia akan menulusuri internet. Seindra begitu senang selama menemani Reisa di perpustakaan ia tak mendapati kemurungan sedikit pun pada wajah Reisa. 
...........................................................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar